Halo Moms, pernah gak ngerasa bahwa cara kita mendidik anak seakan mencerminkan bayangan masa kecil kita sendiri? Misalnya, ketika anak menangis atau waktu kita menasehati mereka, tiba-tiba keingat sama cara orang tua kita dulu memperlakukan kita. Kalau pernah juga, berarti kita sama mommy. Ternyata hal ini memang bukan sekedar kebetulan.
Dalam bukunya “The Book You Wish Your Parents Had Read (And Your Children Will Be Glad That You Did)”, Philippa Perry membahas tentang bagaimana pengalaman masa kecil kita mempengaruhi cara kita mendidik anak. Menurutnya, banyak dari kita tanpa sadar menerapkan pola asuh yang mirip dengan yang kita alami dulu. Baik itu yang positif maupun yang negatif.
Moms, yuk kita coba merenung sejenak. Ingat gak waktu pertama kali anak kita menangis, mungkin ada perasaan/pengalaman masa kecil kita muncul? Atau waktu kita nasihatin anak-anak, tiba-tiba seperti mendengar kembali suara dari orang tua kita dulu? Hal ini bukan hanya perasaan kita aja loh mommy.
Ternyata apa yang kita alami di masa kecil memang sangat mempengaruhi cara kita berinteraksi dengan anak-anak kita, bahkan sampai cara kita mendidik ke anak-anak kita.
Bagaimana Masa Lalu Kita Mempengaruhi Pola Asuh
Sebagai Mommy, tentunya kita ingin yang terbaik untuk anak-anak kita. Kita semua ingin mereka tumbuh dengan penuh kasih sayang, percaya diri, dan empati. Tapi terkadang, pengalaman kita di masa lalu bisa menjadi penghalang tanpa kita sadari. Apa yang kita rasakan dan alami waktu kecil bisa ikut menentukan bagaimana kita bereaksi terhadap perilaku anak-anak kita.
Contohnya, ketika kita merasa kesal atau frustasi dengan anak, bisa jadi sebenarnya bukan karena apa yang mereka lakukan saat itu, tapi karena ada luka lama kita yang terbuka. Tanpa disadari, kita mungkin bereaksi atas pengalaman masa kecil kita sendiri, bukan berdasarkan kebutuhan anak saat itu. Nah, pertanyaannya sekarang, bagaimana kita bisa memastikan bahwa masa lalu kita tidak menghambat tumbuh kembang anak-anak kita?
Langkah-langkah untuk Mendidik dengan Lebih Sadar
- Luangkan Waktu untuk Merenung. Setiap hari, coba sisihkan waktu sejenak untuk merenung. Pikirkan tentang pengalaman masa kecil yang mungkin masih membekas dan bagaimana hal itu bisa mempengaruhi cara kita berinteraksi dengan anak. Dengan menyadari hal ini, kita bisa lebih bijak dalam merespons mereka.
- Tanya Diri Sendiri : Ini Tentang Siapa? Saat kamu merasa frustasi dengan perilaku anak-anak, coba tanyakan pada diri sendiri, “Apakah ini benar-benar tentang anak saya, atau ini lebih tentang saya?” Kadang, emosi yang muncul justru lebih berkaitan dengan pengalaman kita di masa lalu daripada apa yang sebenarnya dilakukan anak kita.
- Ambil Napas Dalam-dalam. Ketika merasa marah atau kesal karena anak, cobalah berhenti sejenak, tarik napas dalam-dalam, dan pilih untuk merespons dengan lebih tenang. Kita selalu punya pilihan dalam bagaimana kita bereaksi, dan dengan memberikan waktu untuk berpikir, kita bisa memilih respon yang lebih baik.
- Perbanyak Edukasi Diri. Semakin banyak kita belajar, semakin kita paham. Dengan baca buku atau ikuti kelas parenting yang fokus pada pengaruh masa kecil (Inner Child) dalam mendidik. Karena tidak bisa dipungkiri pengetahuan adalah kunci untuk lebih memahami diri sendiri dan anak-anak kita. The more we know, the more we can understand.
Kenali Inner Child untuk Jadi Orang Tua yang Lebih Bijak
Moms, mengenali dan memahami pengaruh masa kecil kita (Inner Child) terhadap cara kita mendidik anak adalah salah satu hadiah yang bisa kita berikan kepada mereka. Dengan mengenali “Inner Child” dalam diri kita, kita bisa lebih sabar, lebih empatik, dan lebih siap menghadapi tantangan yang muncul dalam pengasuhan.
Jadi, yuk mommy, mari kita mulai perjalanan ini bersama-sama. Dengan langkah-langkah sederhana di atas, kita bisa menciptakan masa depan yang lebih baik untuk anak-anak kita, sambil terus belajar dan berkembang sebagai mommy yang lebih tenang dan bijak. Anak-anak kita pantas mendapatkan yang terbaik, dan dengan mulai dari diri kita sendiri, kita bisa membantu mereka tumbuh menjadi individu yang kuat, bahagia dan tidak perlu sembuh dari masa lalu mereka.